Ada kesalahan di dalam gadget ini

Minggu, 02 Desember 2012

Seribu Kebohongan dalam Ketulusan Cinta


SERIBU KEBOHONGAN
DALAM
KETULUSAN CINTA

Sejenak ia ragu untuk melangkahkan kakinya, lama ia tertegun menatap bangunan sekolah itu. Sesaat kemudian ia sudah melewati gerbang tinggi warna bsi tempa. Semua bangunan itu bercat lime green, sejuk dan lembut angin menerpa rambutnya yang panjang tergerai, tersungging satu senyuman dari bibirnya yang tipis saat Lionel menyapanya.
“ Hai … Li. Sekolah di sini juga ?”
“ Eh … ya, Nel ”
Li-el dan Lionel teman SMP, mereka pernah satu kelas dulu, bahkan bisa dibilang akrsb. Entah kenapa mereka bisa dipertemukan lagi di bangku SMA mungkin ini satu takdir atau kebetulan, dan mereka saat ini juga ada di kelas yang sama, hanya saja mereka tidak duduk satu meja karena ada peraturan yang tidak memperbolehkan anak cewek duduk dengan cowok.
Masa-masa sulit saat orientasi mereka lalui bersama penuh dengan rasa kekesalan, capek dan suka cita.
“ Li … Pisang merah apaan sich ? Aku ga bawa ”
“ Ya … aku tau, pasti kamu gak bakalan bawa, tapi tenang aja … Dah aku bawa’in ”
“ Thank’s ea … Li ”
“Hu’um … ”
Seakan-akan memang mereka terlihat selalu bersama, kemanapun mereka pergi, hingga banyak teman yang heran melihat kedekatan mereka, tapi mereka lebih sering terlihat pergi ke perpustakaan, mungkin hanya untuk sekedar membaca atau meminjam buku materi pelajaran.
Sore itu sepulang sekolah Li-el langsung masuk ke kamarnya, matanya terpejam, ia letih … bahkan sangat letih, setiap jengkal tubuhnya terasa nyeri. Ia mencoba merebahkan tubuhnya untuk mengendurkan otot-ototnya yang kaku. Ini bagian akhir … ya … bagian akhir … irama detak jam membuainya. Ia berjanji akan mengatakannya esok hari. Berdiri di depan cermin kamarnya dan menunduk memandang permadani Victoria yang  tak bertepi. Angin sejuk bertiup pelan menyibak tirai jendela, membawa aroma jasmine yang sedang mekar persis di bawah jendela kamarnya. Waktu pertama kali ia bertemu lagi di sekolah itu, Ia yakin sudah sejak lama rasa cinta itu ada dan tumbuh. Pada awalnya ia ragu, seperti berada diatas simpang jalan yang begitu membingungkan. Bertanya- tanya mana yang lebih menyakitkan, kehilangan seseorang yang kita cintai atau tak pernah memilikinya sama sekali.
Seperti gayanya menghadapi segala tantangan, Li-el menghadapinya dengan santai dan ia sama sekali tak meras ragu.
Besok ia akan mendengar dan tau semua jawaban Lionel, lalu ia akan tau akhirnya, kadang ia tersiksa oleh pikirannya, dan ia bosan terus memendamnya. Ia merasa apapun yang terjadi pasti akan kuat seperti yang pernah ia alami dulu saat cintanya dikhianati oleh Anggit.
Saat Lionel mengajaknya ke perpustakaan, ia pikir inilah saatnya tapi seketika itu Li-el gemetar, tangannya dingin dan lidahnya kelu, tapi mereka berdua tetap berjalan seiring di sela-sela rumput sekolah dan bercanda, tertawa bersama, sementara kenangan bermunculan di benaknya, kenangan yang tak pernah ia ingat tentang cinta pertamanya … dan tiba-tiba sekarang muncul.
“ Li-el … ? ”    
“ Ya … Nel ? ”
Li-el menunduk, dan suara itu membuyarkan semua kenangannya tentang Anggit, dalam hati Li-el berkata “ Ya … Tuhan aku mencintai Lionel tapi aku tak bisa mengatakannya, aku tak mampu dan aku tak sanggup !!!
“ Li-el … kamu dengar aku ? ” 
Lirih lionel kembali menyebut namanya
“ Ya … Nel, Kenapa ? ”
Li-el mengangkat wajahnya
“ Aku ingin katakan sesuatu ke kamu ”
“ Aaaa … ? ”
“ Aku mencintaimu, sejak dulu … sejak kita massih SMP ”. Li-el tersentak kaget.  Ya … Tuhan apa benar kami saling mencintai.
“ Benarkah ??? Apa aku ga salah dengar Nel ??? ”  
“ Ea … bener, kamu ga salah dengar kok, tapi kamu tau aku belum boleh pacaran, apa kamu mau,apa kamu bisa menungguku ? ”
“ Ea … Nel, aku tau itu, aku rasa mungkin kita sama tapi aku akan menunggumu sampe waktu itu tiba ”.
“ Apa kamu mau bersumpah untukku … Li ? ”
“ Itu pasti, Lionel … Aku janji ”.
Ketika sinar matahari membanjir masuk jendela keesokan harinya. Li-el terbaring di ranjang, seperti dewi remaja, rambutnya menghampar diatas sprei seperti bentangan sutra yang lembut dan halus, Li-el membuka sedikit matanya dan tersentak “ Aku terlambat bangun !!! ” dan kemudian bergegas masuk kamar mandi, ia pacu motornya dengan kecepatan tinggi. Aku ingin cepat sampai sekolah dan bertemu dengan Lionel hari ini, dalam hati ia berkata, sesaat kemudian ia sampai di kelas dan melihat Lionel sudah ada di mejanya.
“ Hi … Li, aku pikir hari ini kamu gak berangkat ” seraya tersenyum dan memperlihatkan sederetan giginya yang putih dan rapi. 
“ Tadi aku terlambat bangun, Nel ”
“ O … ”
“ Nel … ”
“ Ya … napa ? ”
“ Aku gak peduli jika kau anggap ini konyol, kita sama-sama tau “N” berusaha buat patuhi semua aturan Bokap “N” Nyokap kita untuk serius belajar tanpa ada istilah pacaran, tapi bukankah kamu juga nyadar kalau kita dah gedhe. Sebagi hukum alam kita pasti punya rasa ketertarikan ke lawan jenis tapi kita juga bisa bedakan tentang hal yang baik dan buruk, So … kita pasti bisa menjaga diri. Aku yakin kamu pahami maksud semua ini. Jujur aku ingin tetap bersamamu … menunggu sampai waktu itu datang untuk kita. Jika cinta itu tetap ada di hatimu nanti, tapi jika tiba-tiba cinta di hatimu pudar, aku ingin kau mengingat aku sebagai teman baikmu tanpa ada rasa cela.
Saat ini jadilah kau orang yang paling special dihatiku yang bisa memberi aku motivasi dan kekuatan untuk terus semangat belajar. Tetaplah jadi cowok yang manis, yang gak aneh-aneh dan yang bisa au banggain. Sejuta tahun dari sekarang, hatiku senantiasa bersamamu dengan segenap jiwa ”.
“ Li … apa kamu tau, aku juga ingin menjaga cinta kita sampai nanti ”
Entah dari mana dan kapan awalnya mereka sepakat jalani hubungan cinta mereka, berjanji untuk saling percaya, saling mengerti, menjaga, menghormati, dan yang pasti saling setia serta bertanggung jawab atas diri mereka masing-masing dalam segala hal. Mereka tau mungkin ini terlihat berlebihan di usia mereka yang masih dini, tapi siapa orangnya yang tak inginkan cintanya terjaga sampai nanti esok tiba. Dan Li-el begitu menyadari kalau ia begitu tulus mencintai Lionel dengan segenap hati dan jiwanya bukan karena Lionel anak yang tajir dan ia juga tak pernah bisa membayangkan jika harus kehilangan Lionel , Li-el gak mau kehilangan cinta “N” perhatian Lionel, ia yakin Lionellah kekuatannya.
Hari itu sekolah pulang lebih awal dan Lionel mengajak Li-el  jalan-jaln. Li-el tak pernah menyangka kalau hari itu Lionel akan memberikan cincin untuknya.
“ Li … Aku ingin kamu menerima dan memakai cincin ini ”
“ Apa arti semua ini Nel … ??? ”
“ Ini untuk cinta kita, apa kamu mau … ??? ”
“ Ea … Nel, aku mau ”
Mereka berjalan berdua menyusuri sepanjang pertokoan dan itu menjadi hari yang paling membahagiaakan buat Li-el dan mungkin tak akan pernah bisa ia lupakan.
“ Nel … pulang yuk, aku capek ”
“ Ok … tapi aku ingin memperkenalkan kamu ma Bunda. Kamu mau kan Li ?
“ Tapi aku takut … Nel ”
“ Udah … tenag aja ”
Tak pernah terpikirkan sebelumnya oleh Li- el kalau ternyata Bunda Lionel bissa menerimanya, nahkan begitu baik dan perhatian pada Li-el.
“ Li … Tante punya bros buat kamu, dipake ya … ??? ”
“ Apa sich Tante, udah makasih, ga usah kok Tante ”   
“ Li … ini buat kamu !!! ”
“ Ah … Tante, jadi ngepotin kan ??? Tapi … makasih ya Tan ”
“ Ea … ”
“ Ea … uadah Tante, Li-el pamit pulang dulu ya Tan ??? ”
“ Ea … ati-ati ya, sering-sering maen ke sini ya Li … ”
“ Ya … Tan, pasti ”
Jam berganti hari, hari berubah berganti minggu dan minggu menjadi buan segalanya terasa begitu indah dan sempurna, sampai akhirnya Li-el sadar ada seribu kebohongan yang Lionel simpan darinya. Semua berawal saat liburan tengah semester. Lionel janji akan datang mengunjunginya satu hari nanti. Setiap hari Li-el menunggunya dari mulai pagi datang sampai saat senja menjelang. Lionel tak pernah menepati janjinya dalam hari-harinya Li-el selalu gelisah sampai akhirnya ia terserang flue berat tapi ia tetap tak pedulikan keadaannya ia hanya inginkan Lionel ada didekatnya. Tapi penantiannya hanyalah sia-sia sampai liburan itu berakhir.
Bukan tau darimana, atau dari siapa bahwa Lionel telah membagi cintanya saat itu, Tapi karena perasaan Li-el yang begitu kuat hingga dia tahu harus bersikap bagaimana, Li-el yakin hatinya berkata benar dan ia putuskan untuk mengakhiri kisah cinta mereka. Ia akan katakan semua ini nanti saat kembali masuk sekolah.
“ Li … terdengar suara Isna memanggil namanya sambil berlari-lari kecil ”.
“ Hi … Is, napa ??? ” 
“ Kamu ma Lionel baik-baik aja kan ??? ”
“ Maksudnya … ??? ”
“ Kalian ga lagi ada masalah kan ??? ”
“ Ea … kami baik-baik aja, mank napa sich Is ??? ”
“ Kemari aku lihat lionel jalan ma cewek lain, awalnya aku pikir itu kamu Li ”
“ Kamu tau siapa dia Is … ??? Anak SMA sini juga ??? ”  
“ Yang aku tahu namanya Linda, tapi bukan anak sini kok, kamu sabar dulu Li …  jangan terbawa emosi ”
“ Ea … aku tau Is, makasih ya buat infonya ”
Seketika itu hatinya sakit, ia hancur dan terluka ternyata apa yang ia rasakan bener. Lionel telah membagi hatinya untuk orang lain.
“ Ya … aku harus bicara dengan Lionel sekarang juga !!! ”
“ Nel … aku nyadar ternyata begiytu tak berartinya aku dihatimu ”.
“ Maksud kamu apa sich Li ??? Aku gak ngerti !!! ”
“ Udahlah Nel … gak sah pake nge-les !!! ”
“ Aku tahu semuanya kok !!! ”
“ Tahu … apa ??? ”
“ Nel … apa se salahku, kesalahan sebesar apa yang udah aku buat ke kamu sampe kamu tega nyakitin aku ??? ”
“ Apa … se Li ??? kamu ngomong apa ??? ” 
“ Nel …  cukup !!! aku tau kamu dah bohongi aku selama ini, dari dulu aku dah bilang, kalau kamu mank dah bosen ma aku, bilang aja terus terang !!! jangan selingkuhin aku seperti ini !!! ”
“ Kamu tau dari siapa see Li … ??? ”
“ Itu gak penting Nel !!! Kamu tega ya !!! padahal sedikitpun aku tak pernah bohongi kamu pa lagi curangi kamu !!! ”
“ Li … maafin aku ”
“ Maaf … ??? kamu bilang maaf ??? semudah itu ??? ”
Ea … Nel aku tau, begitu tak sempurnanya aku dimata kamu !!! Cinta, kasih sayang , perhatian, kesetiaan, kejujuran, dan ketulusan yang aku berikan selama ini ternyata tak pernah ada artinya buat kamu. Aku memang begitu kecil dimatamu hingga kau tak pernah bisa melihat apa yang telah aku buat untukmu.
“ Aku tanya Nel … siapa Linda ??? dan siapa lagi Ochin ??? ”
“ Aku … ”
“ Aku … apa, ??? ayo jawab !!! Kenapa cuma diem ??? ”
Begitu emosinya Li-el sampe ia ingin sekali menampar Lionel. Tapi sesaat kemudian ia menurunkan nada bicaranya, ketika ia melihat setitik air mata disudut mata Lionel, Ia gak tega melihatnya.   
“ Maafin aku Lionel … tapi aku pikir memang lebih baik kita akhiri kisah kita sampe disini., aku tak akan pernah menangis dan berharap untuk kau cintai lagi. Tapi, satu yang harus kau ingat. Tak seorangpun yang akan mencintai kamu sama sepertiku mencintaimu … siapapun dia Lionel !!!! ”
Untuk Bunda Lionel …
Bunda … maafin Li-el, yang mungkin selama ini sikap Li-el kurang sopan atau terlalu merepotkan Bunda.
Li-el sayang Bunda …
 Tapi Lionel lebih memilih yang lain.
Bunda … Terimakasih untuk semuany  ……… J    







  
   

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar